Seo Services
Seo Services

DERINKUYU: KOTA KUNO BAWAH TANAH TURKI

Agustus 17, 2015

Jauh di dalam bawah tanah di Kota Cappadocia Turki terdapat sebuah kota kuno. Diukir dari batuan, Derinkuyu adalah salah satu dari lima kompleks yang saling terkoneksi dengan perkiraan total kapasitasnya dapat mencapai 100.000 orang.
Wilayah Cappadocia dimana Derinkuyu berada, terdapat beberapa kota kuno bawah tanah. Diukir dari formasi geologi yang unik, sebagian besar kota ini kembali digunakan oleh orang-orang Kristen pada awal abad ke-20 sebagai tempat persembunyian. Setidaknya lebih dari 200 kota bawah tanah ditemukan diantara Kayseri dan Nevsehir, dengan sekitar 40 diantaranya memiliki tiga tingkat. Kota Derinkuyu dan Kaymakli adalah contoh kota bawah tanah terbaik yang difungsikan sebagai tempat tinggal.
Kompleks terbesar kota bawah tanah di Cappadocia terdiri dari 18 lantai, sedalam 85 m. Di dalamnya terdapat air segar yang mengalir, ventilasi, tempat tinggal yang disekat-sekat, kamar, sumur, kuburan, gudang senjata, dan rute untuk melarikan diri. Satu kompleks ini dapat digunakan sebagai tempat tinggal bagi 20.000 orang. Untuk siklus udaranya dibuat 52 lubang udara, yang salah satunya mencapai kedalam 55 m. Beberapa sumur memang sengaja tidak terhubung dengan permukaan, kemungkinan ini digunakan untuk melindungi penghuninya dari keracunan pada saat terjadi penggerebekan.
Derinkuyu adalah kota kuno bawah tanah multi-level di distrik Derinkuyu, Provinsi Nevsehir, Turki. Dengan 13 lantai yang memanjang sampai kedalaman sekitar 85 m, kompleks yang cukup besar untuk tempat tinggal ribuan orang secara bersama-sama dengan ternak dan toko makanan toko. Derinkuyu merupakan kota kuno bawah tanah terbesar yang pernah digali di Turki dan merupakan bagian dari jaringan beberapa kompleks bawah yang pernah tanah ditemukan di Cappadocia.
Beberapa ahli Turki berpendapat bahwa bangsa Hittit yang membangun tingkat pertama Kota Derinkuyu untuk dijadikan sebagai gudang; karena cap-cap bangsa Hittit ditemukan penduduk setempat saat mereka membangun pondasi rumah mereka, dan adanya kota Hittit kuno Göllü Dagi yang berada 20 km sebelah barat daya Derinkuyu.Gua-gua pertama kemungkinan mulai diperdalam pada batuan vulkanik lunak di wilayah Kapadokia oleh bangsa Frigia (Phrygia), yaitu bagian dari bangsa Indo-Eropa kuno, pada abad ke-7 hingga ke-8 SM. Ketika pemakaian bahasa Frigia punah di zaman Romawi Kuno dan digantikan oleh kerabat dekatnya yaitu bahasa Yunani,  para penduduk yang kemudian telah beragama Kristen lalu menambahkan gua-gua bawah tanah mereka dengan bangunan kapel dan prasasti berhuruf Yunani.
Setelah wilayah ini jatuh di bawah kekuasaan Utsmaniyah, Kota Kuno Derinkuyu digunakan sebagai lubang perlindungan terhadap penguasa Muslim Turki. Hingga akhir abad ke-20, penduduk Kapadokia Yunani masih menggunakan kota bawah tanah untuk melarikan diri dari penindasan oleh pihak Utsmaniyah. Pada tahun 1909, ketika datang berita tentang pembantaian di Adana, sebagian besar penduduk Axo berlindung di ruang-ruang bawah tanah kota ini, dan selama beberapa malam tidak berani tidur di atas permukaan tanah. Ketika penduduk Kristen di wilayah tersebut terusir pada tahun 1923 dalam peristiwa pertukaran penduduk antara Yunani dan Turki, kompleks bawah tanah tersebut lalu tidak ditempati lagi.
Derinkuyu pertama kali kembali ditemukan pada tahun 1963 secara tidak sengaja seorang penduduk menemukan sebuah pintu rahasia di sebuah rumah yang baru dibelinya. Dinding gua dibuka untuk mengungkapkan bagaimana kehidupan ribuan kota kuno bawah tanah yang dalamnya lebih dari 280 kaki. Pemukiman bawah tanah Derinkuyu dibuka untuk pengunjung pada tahun 1965, namun sejauh ini hanya 10% yang dapat dikunjungi. Untuk masuk ke dalamnya harus melalui terowongan serta orang harus merangkak untuk dapat masuk. Salah satu terowongan di tingkat ketiga Derinkuyu diyakini terhubung ke kota bawah tanah terdekat dari Kaymakli yang jaraknya  5 km. Hingga sekarang belum bisa dilakukan uji karbonat terhadap batu yang ada di dalam gua, sehingga sulit untuk mengungkapkan usia dari kota bawah tanag Derinkuyu. Secara keseluruhan luas kota kuno bawah tanah yang ada di Cappadocia sangat luas. Hasil scanning geo radiasi menunjukkan luasnya sekitar 65 kali lapangan sepak bola.
Pintu Masuk Ke Dalam Kota Bawah Tanah Derinkuyu

Sumber:

DERINKUYU: KOTA KUNO BAWAH TANAH TURKI DERINKUYU: KOTA KUNO BAWAH TANAH TURKI Reviewed by pkn4all on Agustus 17, 2015 Rating: 5

THE GREAT ZIMBABWE: KOTA KUNO DARI ZIMBABWE

Agustus 16, 2015


The Great Zimbabwe merupakan sebuah kota kuno yang diyakni telah ada sejak Zaman Besi. Terletak di Lodge, bagian Tenggara Zimbabwe, lebih tepatnya 19 mil atau 30 km dari Masvingo. Kota kuno ini sekarang hanya tinggal menyisakan reruntuhannya saja yang memanjang sekitar 200 hektar. Sebenarnya di Zimbawe dan Mozambik terdapat 150 reruntuhan batu besar yang mengindikasikan bekas kota kuno, tetapi reuntuhan di Lodge yang paling luas dan besar sehingga disebut “The Great Zimbabwe”.

Menurut Legenda setempat, “The Great Zimbabwe” ini dulunya merupakan taman bermain bagi para raksasa, karena lokasinya yang dikelilingi oleh bukit-bukit curam. Reruntuhan batu dari granit tersebar di wilayah ini dengan cara ditumpuk sehingga dapat membuat formasi batuan yang spektakuler.

Diperkirakan di sekitar lembah dari pusat reruntuhan ini dulunya dihuni oleh 10.000 sampai 20.000 warga Kerajaan Shona atau juga disebut Bantu. Ekonomi penduduknya didasarkan pada pertenakan sapi, budidaya tanaman, dan perdagangan emas di wilayah pantai Samudera Hindia. Hal ini membuat “The Great Zimbabwe” ini menjadi jantung dari sebuah Kerjaan yang berkembang pada periode abad ke-11 hingga ke-15. Dalam bahasa Zimbabwe, kata Shona berarti rumah batu. Orang-orang Shona telah tinggal di wilayah ini selama lebih dari 1000 tahun.
Situs ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kompleks bukit, kompleks Enclosure (dapat diartikan sebagai pagar atau dinding), dan reruntuhan bebatuan. Kompleks bukit dan Enclosure ditandai dengan kontruksi dari batuan mortarless dan bagunan yang terbuat dari daga (tanah dan lumpur bata). Diantara kedua kompleks itu terdapat sejumlah gundukan besar sisa dari bagunan daga.

Kompleks bukit sebelumnya disebut sebagai Acropolis yang merupakan pusat spiritual dan keagamaan dari kota itu. Di tempat tersebut terdapat sebuah bukit curam yang terbuat dari tumpukan batu yang tingginya 262 kaki atau 80 meter. Selain itu juga terdapat reruntuhan yang memanjang 328 kaki atau 100 meter dan 148 kaki atau 45 meter. Reruntuhan-reruntuhan tersebut merupakan bagian tertua dari situs ini. Bukti tumpukan bebatuan ini menunjukan bahwa batu-batu pertama diletakkan pada sekitar tahun 900 M. Orang-orang membangunnya dengan memasukkan batu-batu granit alam yang dibentuk blok persegi panjang untuk membentuk dinding yang tebalnya 20 kaki (6 meter) dan tinggi 36 kaki (11 meter).



 Di sebelah selatan dari komplek bukit, terdapat komplek Anclosure yang merupakan struktur kuno tunggal terbesar yang ada di sub-Sahara. Dinding luarnya sepanjang 820 kaki atau 250 meter, dengan ketinggian maksimum 36 kaki atau 11 meter. Dinding ini membentuk sebuah lingkaran. Di dinding bagian dalam membentuk sebuah panel yang smpit sepanjang 180 kaki atau 55 meter yang mengarah ke kerucut Tower. Tinggi tower tersebut 33 kaki atau 10 meter dengan diameter 16 kaki atau 5 meter. Hingga sekarang belum diketahui maksud pendirian tower ini.
“The Great Zimbabwe ini mulai ditinggalkan pada abad ke-15. Penyabnya karena adanya penurunan perekonomian di wilayah ini. Penduduk saat itu sudah mulai meninggalkan pekerjaan batunya dan mulai menggunakan teknik tembikar yang didapatnya dari wilayah Khami, sebelah selatan dari wilayah reruntuhan ini.
Reruntuhan ini kemudian ditemukan kembali oleh penjelajah Eropa yang mengunjunginya pada akhir abad ke-19. Mereka percaya bahwa wilayah ini dulunya merupakan Kota Legendari Ophir yang merupakan lokasi tambang Raja Salomo. Bersamaan dengan itu pula ditemkan patung-patung batu dalam bentuk rupa burung dalam reruntuhan itu. Oleh sebab itu pada masa sekarang, bendera negara Zimbawe menjadikan burung itu sebagai simbol negaranya.

Sumber:

THE GREAT ZIMBABWE: KOTA KUNO DARI ZIMBABWE THE GREAT ZIMBABWE: KOTA KUNO DARI ZIMBABWE Reviewed by pkn4all on Agustus 16, 2015 Rating: 5

Yaodong: Permukiman dalam Gua dari Masa Kuno

Agustus 15, 2015

Penduduk dunia saat ini jika dihitung pasti akan lebih banyak dari jaman manapun yang pernah dicatat sejarah, dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah secara eksponensial beberapa decade mendatang. Hal ini menjadi perhatian bagi beberapa orang apakah sumberdaya bumi saat ini mampu untuk terus menyangga kehidupan manusia. Sebagai akibatnya saat ini banyak orang mulai berusaha menemukan berbagai alternatif teknologi ramah lingkungan seperti energi matahari dan produk organik. Namun sebenarnya alternatif  teknologi ramah lingkungan ini tidak selalu harus bergantung pada penelitian terkini yang canggih, sebagai contohnya di masa kuno adalah Yaodong, suatu bentuk permukiman yang dapat ditemukan di banyak lokasi di China. Dalam bahasa China, Yaoding berarti gua tempat pembakaran yang dinamakan seperti itu berdasarkan kemiripan interior dengan kondisi di dalam tungku pembakaran tradisional di masa itu. Yaodong ini umumnya ditemukan di provinsi tengah bagian utara China seperti Shanxi, Shaanxi, Gansu, dan Henan yang umumnya terletak di dataran tinggi.

Rumah Gua Yaodong tradisional di Shanxi, China

Beberapa orang menyebutkan bahwa Yaodong pertama kali muncul pada jaman dinasi Qin sekitar abad ketiga sebelum masehi. Lebih dari dua milinieum kemudian, yaodong masih menjadi pilihan bagai pemukim yang tinggal di dataran tinggi di wilayah ini dan diperkirakan sekitar 75% dari 40 juta penduduk di dataran tinggi wilayah ini tinggal di struktur semacam ini.

Yaodong dapat dibagi menjadi beberapa tipe, tergantung pada kondisi topografi di lokasi dimana struktur ini dibangun. Sebagai contoh, di lokasi dimana perbukitan tersedia, Yaodong akan dibangun di dalam lereng, dan sebuah bukit mungkin berisi beberapa tingkat Yaodong. Sebagai contoh, sebuah hotel Yaodong berlantai delapan dengan 300 kamar dapat ditemukan di utara kota Yan/an di provinsi Shaanxi. Sedangkan untuk lokasi dimana tidak terdapat perbukitan, Yaodong dapat dengan mudah dibangun ke dalam tanah. Tembok segi empat dengan kedalaman sekitar 5 hingga 8 meter akan digali pertama kali ke dalam tanah. Selanjutnya Yaodong akan dibangun dengan jalan membangun tembok-tembok atau sekat di dalam tembok segiempat tersebut. 

Komplek bangunan yang umum yang ditemui di Shaanxi atau Henan. Penduduk bermukim di dalam gua karena alasan praktis.

Terdapat pula Yaodong yang dibangun tanpa perlu menggali lereng atau melubangi tanah. Cara lain yang digunakan adalah dengan membuat kerangka bangunan-bangunan dengan menggunakan batu atau bata. Kemudian tanah diisikan pada ruang-ruang kosong diantara bangunan-bangunan Yaodong tersebut, termasuk digunakan untuk menutup atap struktur tersebut.

Penggunaan yang berkelanjutan dari Yaodong di dataran tinggi ini selama ribuan tahun ini mungkin dikarenakan alasan keekonomisan dan desain yang efisien. Dalam hal bahan bangunan, hanya tanah lokal yang digunakan dalam bangunan ini yang relatif mudah didapatkan ketimbang kayu atau batu. Sebagai tambahan tanah adalah insulator panas yang efisien sehingga dapat mempertahankan suhu ruangan untuk hangat selama musim dingin atau dingin selama musim panas berlangsung.

Fitur unik Yaodong lainnya adalah kang, yaitu semacam sejenis ranjang berpenghangat. Satu ranjang dihubungkan ke sebuah tungku dan di sisi lainnya disambungkan dengan lubang pembuangan. Kang sendiri berongga di dalamnya sehingga memungkinkan panas dan asap mengalir dari tungku ke lubang pembuangan dan proses ini kemudian menghangatkan kasur dan ruangan.

Ilustrasi dari sebuah kang yang besar yang diisi oleh para tamu yang berbagi ruangan di wilayah tak bertuan di Tonghua Jilin.

Di beberapa decade terakhir, Yaodong telah menarik perhatian peneliti. Permukiman tradisional ini dianggap sebagai salah satu bentuk desain yang berkelanjutan. Digambarkan bahwa Yaodong sebenarnya merupakan refleksi dari sebuah konci konsep tradisional China yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Walau mungkin Yaodong merupakan struktur unik yang dimiliki oleh dataran tinggi di China, ide dari bangunan ini telah popular di masyarakat saat ini.

Ketika mungkin Yaodong tidak dapat ditiru untuk dibangun di bagian China yang lainnya atau di wilayah lain di dunia, konsep ramah lingkungannya telah menginspirasi para peneliti dari seluruh penjuru China untuk memperbaiki arsitektur bangunan di beberapa wilayah lain di China dan membuatnya lebih berkelanjutan untuk waktu yang lama.

Gaya Pemukiman Yaodong di Yan’an, Shanxi, China.

Walaupun demikian, terlepas dari kelebihan dari permukiman Yaodong ini, struktur ini memiliki satu kelemahan mendasar yaitu sangat rentan terhadap kerusakan yang disebabkan bencana alam. Sebagai contoh pada 23 Januari, 1556, terjadi gempa bumi paling mematikan dalam sejarah yaitu gempa bumi yang menghantam provinsi Shaanxi di China. Diperkirakan 830.000 orang tewas. Sekitar 849 kilometer persegi wilayah hancur dan di beberapa kabupaten hanya 40% penduduk yang selamat. Di masa itu jutaan orang tinggal di dalam Yaodong dan karena tanah di wilayah ini merupakan tanah yang mudah tererosi oleh angin dan air, gempa bumi telah memicu tanah longsor yang menhancurkan gua-gua dan menghasilkan suatu bencana yang merenggut banyak korban jiwa.

  
Sumber
Bai, M., 2015. Yaodong, Unique Dwelling in Loess Plateau. [Online]
Available at: http://www.cits.net/china-guide/china-traditions/yaodong-cave-dwelling.html
Liu Jiaping et al., 2002. An Instance of Critical Regionalism: New Yaodong Dwellings in North-Central China. [Online]
Available at: http://iaste.berkeley.edu/pdfs/13.2f-Spr02liu-wang-yang-sml.pdf
www.allamericanpatriots.com, 2006. Chinese Cave Dwellings Inspire Sustainable Design. [Online]
Available at: http://www.allamericanpatriots.com/node/14551
www.worldhabitatawards.org, 2006. The New Generation of Yaodong Cave Dwellings, Loess Plateau. [Online]
Available at: http://www.worldhabitatawards.org/winners-and-finalists/project-details.cfm?lang=00&theProjectID=314
Yaodong: Permukiman dalam Gua dari Masa Kuno Yaodong: Permukiman dalam Gua dari Masa Kuno Reviewed by pkn4all on Agustus 15, 2015 Rating: 5

Ciudad Perdida: Kota Yang Hilang di Dataran Tinggi Kolombia Menyimpan Misteri dari Sebuah Peradaban Kuno

Agustus 14, 2015


Di awal 1970an, seorang local guaquero (berarti pencuri makam dalam bahasa lokal) bernama Florentino Sepúlveda, dan dua anaknya Julio César dan Jacobo bercerita bahwa mereka telah menemukan sebuah kota kuno di Pegunungan Sierra Nevada Kolombia setelah mendaki lebih dari 1000 anak tangga dari sebuah lembah sungai. Sumber lain menyatakan bahwa guaquero ini pada awalnya berburu burung khas tropis ketika mereka pada akhirnya menemukan kota kuno yang telah ditinggalkan tersebut. Di kota itu mereka menemukan harta karun dan mereka tidak membuang-buang waktu untuk manjarah lokasi ini. Berita kemudian tersebar dan menarik lebih banyak guaquero yang ingin mendapatkan bagian dari harta karun itu. Sebagai hasilnya, pertarungan mematikan pecah antar para kelompok rival untuk mendapatkan kontrol atas lokasi ini. Para guaquero kemudian menjuluki tempat ini sebagai “Inferno Verde” (yang berarti Neraka Hijau). Namun saat ini lokasi ini dikenal sebagai Ciudad Perdida (yang berarti Kota Yang Hilang)

Para Dukun/Shaman Lokal di  Ciudad Perdida. Mereka bercerita bahwa  Koguis adalah penjaga peradaban Tayrona di masa modern ini. 2014, oleh Uhkabu

Ciudad Perdida dipercaya dibangun di suatu masa sekitar abad ke 9 masehi dan dikuasi oleh Tayrona hingga akhir abad ke-16. Tayrona adalah peradaban lokal yang dipercaya ada hingga terjadinya penaklukan oleh Spanyol. Walaupun para arkeolog telah meneliti Ciudad Perdida selama lebih dari 30 tahun, namun diperkirakan hanya 10% dari seluruh lokasi ini yang telah digali. Arkeolog telah menemukan lebih dari 200 struktur yang meliputi sebuah area sekitar 0.3 km persegi. Struktur ini terdiri atas rumah-rumah dari berbagai ukuran, teras, jalur lurus berbatu dan tangga, plasa, area pesta dan upacara adat, kanal serta gudang penyimpanan. 

Foto yang menunjukkan keindahan reruntuhan di Ciudad Perdida. 2010, foto oleh Jmage

Walaupun para guaqueros telah menjarah lokasi ini dengan ganas, mereka tidak berhasil mengambil semuanya dari Ciudad Perdida. Selanjutnya, para arkeolog dapat bekerja secara seksama di lokasi yang menghasilkan berbagai penemuan artefak yang memberikan secercah sinar tentang kisah orang Tayrona yang menghuni Ciudad Perdida di masa lalu. Benda-benda artefak tersebut antara lain gerabah, baik untuk ritual maupun penggunaan sehari-hari, barang dari emas, seperti kalung atau batu berharga. Beberapa artefak ini dipajang di Santa Marta, sebuah kota pantai yang tidak jauh dari lokasi, dan di Museo Del Oro di ibukota negara Bogota.

Crotal bell, tumbaga, Tayrona culture, 1000-1500 A.D., Metropolitan Museum of Art, New York. 2010. Photo by Janmad

Pada pertengahan 1970an, beberapa tahun setelah penemuan oleh Sepúlveda, pemerintah Kolombia mulai menaruh perhatian dan mengambil alih lokasi ini. Pasukan dan arkeolog dikirim untuk melindungi lokasi bersejarah ini. Walaupun begitu, pertempuran sporadis dan pencurian oleh guaquero masih berlangsung untuk beberapa tahun kemudian. Sebagai tambahan, huta di sekitar lokasi juga diramaikan oleh perang obat bius dan pemberontakan paramiliter yang terjadi sejak dekade 1960an. Di tahun 2003, sebuah grup dari delapan turis asing diculik bersama pemandu mereka oleh sebuah kelompok gerilya yang disebut ELN ketika dalam perjalanan menuju Ciudad Perdida. Untungnya mereka dibebaskan tiga bulan kemudian. Semenjak insiden tersebut, Ciudad Perdida ditutup untuk umum dan dibuka kembali di tahun 2005 setelah militer mengirimkan pasukan untuk memastikan keamanan jalur menuju lokasi.


                                        
Mystical Lost City in Tayrona National Park, Santa Marta, Colombia. Photo Courtesy (sumak-travel.org)

Peningkatan kemanan ini kemudian meningkatan kunjungan turis dimana sebagai contoh jumlah turis asing meningkat dari 2000 orang di tahun 2007 menjadi 8000 di tahun 2011. Saat turisme menjadi sumber ekonomi potensial untuk menggantikan perdagangan obat bius, hal ini juga menimbulkan dampak tersendiri. Kunjungan turis yang meningkat ditakutkan dapat menimpulkan dampak negatif seperti kerusahan pada lokasi seperti penjarahan yang tidak bertanggungjawab dan seperti penjualan artefak berharga sebagai sufenir.

Sumber
Global Heritage Fund, 2015. Ciudad Perdida, Colombia. [Online]
Available at:
http://globalheritagefund.org/what_we_do/overview/current_projects/ciudad_perdida_colombia
Hotfelder, A., 2010. Ciudad Perdida: The spectacular five-day trek to Colombia’s Lost City. [Online]
Available at: http://gadling.com/2010/09/16/ciudad-perdida-the-spectacular-five-day-trek-to-colombias-lost/
Hudson, S., 2012. Trekking to Colombia's Lost City. [Online]
Available at: http://www.bbc.com/travel/story/20120720-trekking-to-colombias-lost-city
Lonely Planet, 2015. Ciudad Perdida. [Online]
Available at: http://www.lonelyplanet.com/colombia/ciudad-perdida
McGinnis, P., 2013. La Ciudad Perdida: Colombia's Lost City Gets Found. [Online]
Available at: http://www.huffingtonpost.com/patrick-mcginnis/la-ciudad-perdida-visitin_b_2475363.html
The Culture Trip, 2015. Colombia’s Mysterious Lost City: Finding the Ciudad Perdida. [Online]
Available at: http://theculturetrip.com/south-america/colombia/articles/colombia-s-mysterious-lost-city-finding-the-ciudad-perdida/
Thomson, E., 2014. Colombia's Ciudad Perdida: Secrets of the Lost City. [Online]
Available at: http://www.independent.co.uk/travel/americas/colombias-ciudad-perdida-secrets-of-the-lost-city-9860415.html
Ciudad Perdida: Kota Yang Hilang di Dataran Tinggi Kolombia Menyimpan Misteri dari Sebuah Peradaban Kuno Ciudad Perdida: Kota Yang Hilang di Dataran Tinggi Kolombia Menyimpan Misteri dari Sebuah Peradaban Kuno Reviewed by pkn4all on Agustus 14, 2015 Rating: 5

Penemuan Monolit Kuno Berusia 10.000 Tahun Di Dasar Laut Selat Sisilia

Agustus 14, 2015

Baru-baru ini monolit misterius berusia 10.000 tahun yang ditemukan di dasar laut Selat Sisilia telah mengungkap bagaimana kemajuan teknologi manusia pra sejarah zaman batu. Monolit tersebut menunjukan bahwa manusia di zaman itu telah mampu bekerja dalam kelompok dengan memotong batu seberat 15 ton secara tepat serta membawanya sejauh 300 meter.

"Keberadaan monolit ini memperlihatkan adanya aktivitas manusia yang intensif di sekitar wilayah  Sisilia," tulis Emmaluele Lodolo dari Institut Nasional Oseanografi dan Geofisika dari Italia, dan Zvi Ben-Abrahaman dari Tel Aviv University dalam publikasi di Journal of Archaeological Science edisi September 2015.

"Monolit tersebut merupakan hasil potongan dari sebuah batuan tunggal yang terletak 300 meter lebih ke selatan dari posisinya saat ditemukan, yang lalu dipindahkan dan mungkin ditegakkan," ungkap kedua peneliti seperti dikutip situs Ancient Origin, Sabtu (8/8/2015).

                                        

Obyek berukuran 12 meter itu ditemukan pada dasar laut di kedalaman 40 meter dari permukaan laut saat para peneliti kelautan menyurvei perairan antara Sisilia dan Tunisia. Umur monolit diperkirakan berdasarkan analisis dari fragmen cangkang yang menempel pada permukaannya.

Monolit yang dibuat oleh masyarakat berburu dan meramu itu dahulu tak sepenuhnya tenggelam. Hingga saat Zaman Es berakhir pada 9.850 tahun lalu, daratan antara Tunisia dan Sisilia yang menjadi salah satu pusat hunian saat itu kemudian dibanjiri oleh air, menjelma menjadi selat.

Peneliti meyakini bahwa monolit yang ditemukan merupakan buatan manusia karena punya bentuk yang beraturan dan tiga lubang dengan diameter yang sama. Tidak jelas fungsi monolit pada saat itu. Namun, benda tersebut membuktikan bahwa manusia pada Zaman Batu cerdas dan bisa berkreasi.

"Penemuan situs bawah air di Selat Sisilia bisa memperluas pengetahuan kita tentang peradaban mula di Mediterania, serta pandangan kita tentang inovasi dan perkembangan teknologi yang dicapai oleh orang masa Mesolitikum," kata Lodolo dan Ben-Abraham.

Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2015/08/14/21575771/Monolit.Berusia.10.000.Tahun.Ini.Jadi.Bukti.Kehebatan.Manusia.Zaman.Batu

http://news.discovery.com/history/archaeology/underwater-stonehenge-monolith-found-off-coast-of-sicily-150806.htm

Penemuan Monolit Kuno Berusia 10.000 Tahun Di Dasar Laut Selat Sisilia Penemuan Monolit Kuno Berusia 10.000 Tahun Di Dasar Laut Selat Sisilia Reviewed by pkn4all on Agustus 14, 2015 Rating: 5

Danau Berdarah: Kisah Kelam Laguna Yahuarcocha, Ekuador

Agustus 14, 2015

Laguna Yahuarcocha, yang berarti danau darah dalam bahasa Kicwa adalah sebuah danau keramat di Ekuador. Danau ini merupakan lokasi pembantaian berdaeah sebagai akibat dari pemberontakan penduduk local terhadap kekuasaan Inca. Laguna Yahuarcocha, yang juga disebut Yawarkucha, terletak sekitar 3 kilometer sebelah utara Kota Ibarra. Bertengger di ketinggia 2190 meter diatas permukaan laut, lokasi ini adalah salah satu tempat wisata di wilayah ini. Diperkirakan danau ini berumur 12.000 tahun sebagai hasil dari pencairan gleser di masa lalu. 

Danau Yahuarcocha dari San Miguel Mirador, Ibarra, Ekuador

Lokasi ini disebuy Danau Berdarah dikarenakan memiliki sejarah sebagai lokasi pertempuran kuno antara orang Inca yaitu Huayna-Capac (Raja ke-11 dari Inca) dan penduduk local terakhir yang membangkang yang dikenal sebagai persatuan Caranqui-Cayambe-Pasto. Dimana sebelum penaklukan Inca di akhir abad ke-15, lokasi ini merupakan wilayah Kerajaan Quito (saat ini Ekuador) yang memiliki beberapa suku berdasarkan bahasa antara lain Pasto, Otavalo-Caranqui and Cayambe.

Huayna Capac, digambar oleh Felipe Guaman Poma de Ayala

Benteng Inca, dibangun pada waktu sekitar pertempuran ini terjadi, telah ditemukan beberapa waktu yang lalu, benteng ini dibangun dekat dengan gung api kuno Pambamarca. Penemuan ini menyediakan para arkeolog bukti bahwa telah terjadi perang oleh Inca sebelum kedatangan Penakluk Spanyol. Dua puluh benteng telah diidentifikasi dibangun oleh Inca dan dua oleh Cayambe. Bukti menunjukkan bahwa terdapat tapal batas kuno antara Benteng Inca dan Benteng Penduduk Lokal Cayambe.
Penemuan ini memberikan bukti arkeologis untuk mendukung legenda Danau Yahuarcocha, yang diceritakan orang Spanyol ketika mereka menginvasi Amerika Selatan selama  abad ke-16 dan 17. Berdasarkan kisah ini, penguasa Inca Huayna Capac berusaha menaklukan Cayambe dengan menggunakan kekuatan militer yang sangat kuat. Dia mengharapkan kemenenangan dapat diraih dengan cepat namun ternyata berakhir dengan perlawanan yang panjang dan berdarah.
Gerbang Barat dari Benteng Inca di Quitoloma. Saat ini sedang dalam penggalian dan perlindungan oleh para Arkeologis.
Pertempuran Yahuarcocha
Pertempuran berdarak di Yahuarcocha terjadi di tahun 1487. Penduduk Cayambe menyadari bahwa kekuaran mereka tidak akan mampu menghadapi pasukan Inca dalam pertempuran terbuka, selanjutnya mereka mengundurkan diri dan membuat pertahan di sebuah benteng yang sangat besar. Huayna Capac memerintahkan pasukannya untuk mengepung benteng itu dan membordardirnya terus menerus, Penduduk Cayambe memberikan perlwanan yang sengit dan memaksa pasukan Inca mundur dengan korban yang besar. Huayna Capac kemudian mengumpulkan pasukan yang besar untuk memastikan penaklukan total terhadap pemberontak itu. Pasukan Inca pada akhirnya berhasil memukul Pasukan Cayambe keluar dari pertahannya ke pinggir danau.

Pembantaian di Danau Yahuarcocha
Ketika Huayna Capac berhasil menaklukan suku-suku tersebut, dokumen sejarah mencatat bahwa dia memerintahkan pembantaian terhadap semua pria Caranqui yang berumur 12 tahun atau lebih dan membuat tubuh mereka ke danau Yahuarcocha yang membuat air danau menjadi merah dengan darah. Pasukan Inca diperintahkan untuk memotong tenggorokan musuh tanpa kasihan ketika mereka tertangkapdan membuang tubuhnya ke danau. Penelitian arkeologis terkini telah menemukan potongan keramik dan bagian-bagian tulang yang berasal dari orang dewasa dan remaja. Tulang-tulang ini menunjukkan terdapat bukti telah telah terjadi pertarungan yang fatal, namun hingga saat ini total kematian belum dapat ditentukan dengan pasti. Perkiraan para ahli sekitar 20.000 hingga 50.000 penduduk local dibuniu oleh Inca.


References
Jarus, Owen. "Ancient War Revealed in Discovery of Incan Fortresses." LiveScience. Accessed July 11, 2015. http://www.livescience.com/14370-incan-fortresses-ecuador-ancient-battles.html.
Masn, Susan. "A Local View at Laguna De Yahuarcocha." AFAR Media. http://www.afar.com/places/a-local-view-at-laguna-de-yahuarcocha.
"Ibarra History - Bloody Battles and Famous Ice Cream." ProEcuador. http://www.pro-ecuador.com/ibarra-history.html.
"Laguna Yahuarcocha: The Lake of Blood." ProEcuador. http://www.pro-ecuador.com/laguna-yahuarcocha.html.
Ruiz, Gabriela. "Yaguarcocha Lagoon. An Amazing Place in Ecuador." Yahuarcocha Lagoon. November 25, 2014. http://yahuarcochalagoon.blogspot.com/.
Danau Berdarah: Kisah Kelam Laguna Yahuarcocha, Ekuador Danau Berdarah: Kisah Kelam Laguna Yahuarcocha, Ekuador Reviewed by pkn4all on Agustus 14, 2015 Rating: 5

“Seventh Son of A Seventh Son”: Mitos Anak Ke Tujuh

Agustus 10, 2015
           Sumber: http://www.ancient-origins.net
Dalam berbagai kebudayaan, angka tujuh sering kali dianggap sebagai angka ajaib atau keramat. Dalam keyakinan agama Ibrani dan Kristen, diyakini bahwa Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam waktu tujuh hari. Sementara itu dalam mitologi Yunani, Pleiades merupakan sebuah kelompok terdiri dari tujuh orang perempuan bersaudara yang menjadi sahabat dari Dewi Artemis. Adapula “Seven Sages” (Tujuh kebijakan) dari Yunani dan Shichifukujin (Tujuh Dewa Keberuntungan dalam mitologi Jepang). Dalam cerita rakyat, tujuh juga memiliki peran khusus dalam urutan kelahiran.
                        Lukisan Ilustrasi Pleiades
Sumber: http://www.ancient-origins.net
Dalam cerita rakyat Eropa, putra ketujuh dari anak ketujuh diyakini memiliki kekuatan khusus. Dengan catatan bahwa keenam saudara sebelumnya semuanya merupakan anak laki-laki. Putra ketujuh ini diyakini memiliki bakat dan kekuatan untuk menyembuhkan penyakit. Beberapa dokter di abad sebelumnya bahkan mengklaim bahwa kemampuan mereka dalam menyembuhkan penyakit adalah bahwa mereka merupakan putra ketujuh dari tujuh bersaudara. Di Irlandia, putra ketujuh dari anak ketujuh juga diyakini memiliki kekuatan untuk meramalkan masa depan, disamping kemampuan menyembuhkan.
Meskipun demikian tidak semua cerita tentang putra ketujuh berakhir dengan keberuntungan. Ada pula takhayul yang mengatakan bahwa putra ketujuh dalam keluarga yang semua anaknya laki-laki akan dikutuk dan sang anak ketujuh ini akan berubah menjadi “Luison”. Sejenis serigala jadi-jadian. Mitos Luison ini terdapat di negara Amerika Selatan, terutama di Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay. Diyakini bahwa mitos ini awalnya berasal dari suku Guarani yang ada di Paraguay.
Dalam mitologi Guarani, Luison merupakan anak ketujuh dan termuda dari Tau (sebutan bagi roh jahat) dan Kerana (nama seorang manusia perempuan). Dalam cerita aslinya, Luison dianggap sebagai Dewa Kematian dan memiliki sosok mengerikan. Wajahnya panjang dan pucat, dan seluruh tubuhnya ditutupi dengan rambut kotor dan panjang. Dia juga memiliki mata yang menakutkan dan memiliki bau kematian, serta menimbulkan kerusakan di sekitarnya. Semenjak kedatangan penjajah Eropa di wilayah Amerika Selatan ini membuat mitos Luison ini berubah. Luison tidak lagi digambarkan sebagai Dewa Kematian tetapi menjadi manusia serigala.
Lukisan Ilustrasi Luison

Mitos setempat bercerita bahwa pada malam bulan purnama, terutama jika malam itu jatuh pada hari Jumat, anak ketujuh dari keluarga yang semua anaknya laki-laki, setelah anak ketujuh itu mencapai usia 13 tahun maka dia akan berubah menjadi Luison. Seperti dalam cerita manusia serigala yang ada di Eropa, Luison juga akan memberikan teror pada malam hari dengan berburu dan membunug, serta menyebar kutukan melalui gigitannya.
Mitos tetang putra ketujuh dari anak ketujuh ini masih ada hingga sekarang. Bahkan mitos ini telah menjadi inspirasi dalam pembuatan berbagai film, sastra, dan musik. Sebuah grup band heavy rock terkenal, Iron Meiden juga membuat sebuah lagu dengan judul Seventh Son of A Seventh Son.
Here they stand brothers them all
All the sons divided they'd fall
Here await the birth of the son
The seventh, the heavenly, the chosen one
Here the birth from an unbroken line
Born the healer the seventh, his time
Unknowingly blessed and as his life unfolds
Slowly unveiling the power he holds
Seventh son of a seventh son
Then they watch the progress he makes
The Good and the Evil which path will he take
Both of them trying to manipulate
The use of his powers before it's too late
Seventh son of a seventh son
Today is born the seventh one
Born of woman the seventh son
And he in turn of a seventh son
He has the power to heal
He has the gift of the second sight
He is the chosen one
So it shall be written
So it shall be done

Sumber:

“Seventh Son of A Seventh Son”: Mitos Anak Ke Tujuh “Seventh Son of A Seventh Son”: Mitos Anak Ke Tujuh Reviewed by pkn4all on Agustus 10, 2015 Rating: 5

Sejarah Kehadiran Orang Afrika di Cina

Agustus 08, 2015
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=u2B8hgT2LKk

Kehadiran orang-orang Afrika ke Asia masih menjadi sebuah topik penelitian yang menantang dan menarik. Dan pada artikel ini akan sedikit mencoba menarasikan eksistenti orang Afrika di Cina dan bagaimana awal kehadiran mereka di Cina.

Pada bulan September 1998, sebuah penelitian ilimiah yang diposting di Los Angeles Times menyimpulkan bahwa:

“Most of the population of modern China — one-fifth of all the people living today — owes its genetic origins to Africa.” (Sebagian besar penduduk China modern - seperlima dari semua orang yang hidup hari ini – menerima gen orang-orang Afrika kuno."

Sedangkan dari ranah antropologi fisik asal orang Cina, seorang akademisi yang terkemuka dalam bidang tersebut, Kwan-chih Chang menyatakan bahwa:

“Skeletal remains from the Hoabinhianand Bacon strata, similar to those found in southwest China, bear Oceanic Negroids features.” (Peninggalan/sisa kerangka dari Hoabinhian dan Bacon, mirip dengan yang ditemekuan di barat daya Cina, masih mirip dengan Oceanic Negroid).

Peninggalan Patung Oceanic Negroid Di Campa Dari Tahun 192 M
   


Orang-orang berkulit hitam pertama yang hadir di Cina mirip dengan bangsa Batwa yang yang ada di Afrika Tengah dan juga dari Kepulauan Adaman saat ini. Orang kulit hitam ini disebut Africoids kerdil. Dan mereka ini telah mampu bertahan dalam perubahan zaman. Para sejarahwan juga menyebut mereka dengan nama “Black Dwarfs”. Pada awalnya kehadiran para Africoids  ini dimulai dari Cina selatan pada periode “Tiga Kerajaan” (250 M), dan dicatat ke dalam Kitab resmi dari Dinasti Liang (502-556 M).

Mereka dikatakan sebagai Afrioids kecil dan dalam beberapa daerah lain disebut Pigmi, Negrito, dan Aeta. Mereka dapat ditemukan di Filipina, Malaysia Utara, Thailand, Sumatera, dan tempat-tempat lainnya. Sejarahwan Cina menyebutnya “Black Dwarfs” dalam periode “Tiga Kerajaan”, dan mereka ini masih bisa ditemukan di Cina selama dinasti Qing (1644-1911). Di Taiwan mereka disebut “Little Black People”, selain bertubuh kecil, berhidung lebar, berkulit gelap, dan memiliki rambut kriting.

Afrioids kerdil ini juga menghuni Kepulauan Andaman, kepulauan terpencil di India Timur dan mereka adalah keturunan langsung dari manusia modern pertama yang telah mendiami Asia, ahli genetika menyimpulkan dalam studi terbaru. Ciri fisik mereka, bertubuh pendek, kulit gelap, rambutpeppercorn” (rambut keriting kecil dan bergumpal) dan bokong besar. Ini semua merupakan ciri khas yang disebut Afrika "Pigmi". Sekarang hanya ada empat kelompok yang mampu bertahan dari berbagai kelompok yang pernah menghuni Kepulauan Andaman bertahan. Totalnya populasinya sekarang sekitar 500 orang. Ini termasuk suku Jarawa, yang masih tinggal di hutan, dan suku Onge yang telah diakui sebgaia warga negara oleh pemerintah India.

Kelompok orang Hitam yang sama juga telah telah diidentifikasi di Jepang, Vietnam, Kamboja dan Indonesia. Tampaknya bahwa pada satu waktu ikatan populasi orang Hitam ini telah meliputi sebagian besar Asia, termasuk awal China dan China terutama selatan.

Mengenai kehadiran orang Afrika pada awal peradaban Cina dapat dilihat dalam tiga dinasti yaitu Shang, Tang dan Yuan. Dinasti pertama Cina yaitu Dinasti Shang (1766 SM-1027 M), tampaknya juga memiliki latar belakang hubungan dengan orang-orang kulit hitam ini. Begitu banyaknya orang kulit hitam pada dinasti ini sehingga Zhou menggambarkan mereka sebagai “Black and oily skin”.

Sedangkan pada masa Dinasti Yuan (1271M -1368M) dinasti ini didirikan oleh Kubilai Khan- kehadiran orang-orang kulit hitam dapat dilihat dari sejumlah lukisan yang terkenal. Pertama, sebuah lukisan yang dibuat oleh Liu Guandao, seorang pegawai pengadilan pada 1280. Dalam lukisan tersebut dapat dilihat sebuah adegan berburu. Kubilai Khan sedang duduk di atas kudanya, ditemani dengan dua orang kulit hitam yang sama-sama duduk di atas kuda. Diasumsikan bahwa kedua orang kulit hitam ini lebih dari pengawal atau prajurit Kubilai Khan, tetapi bisa saja mereka bangsawan atau pejabat tinggi Yuan. Lukisan kedua merupakan handscroll yang menggambarkan “pembawa upeti” pada akhir Dinasti Yuan (sekitar 1350 M). Dalam lukisan tersebut menggambarkan empat orang kulit hitam. Sekarang lukisan ini ada di Museum Seni Asia, Avery Brundage, San Francisco.

Apa yang ditulis dalam artikel ini hanya merupakan gambaran singkat dan sebagai awal permulaan dalam kasus penelitian orang-orang kulit hitam di Asia, khusunya di Cina. Sangat besar kemungkinan di masa yang akan datang akan ditemukan bukti-bukti baru mengenai bagaimana hubungan antara kedua ras yang berbeda ini.

Diterjemahkan secara bebas dari :

Sumber:
Chang, Kwan-chih. The Archaeology of Ancient China. New Haven: Yale University Press, 1963.
Chi, Li. The Formation of the Chinese People: An Anthropological Inquiry. 1928; rpt. New York: Russell and Russell, 1967.
Komaroff, Linda. Gifts of the Sultan. New Haven: Los Angeles County Museum of Art, Yale University Press, 2011.
Quartly, Jules. The Taipei Times, Nov. 27, 2004.
Rogers, J.A. Sex and Race, vol. 1. St. Petersburg: Helga M. Rogers, 1968.
The Los Angeles Times, Sept. 29, 1998.
Williams, Chancellor. The Destruction of Black Civilization. Chicago: Third World Press, 1976.
Sejarah Kehadiran Orang Afrika di Cina Sejarah Kehadiran Orang Afrika di Cina Reviewed by pkn4all on Agustus 08, 2015 Rating: 5
ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.